Angga dan Umam adalah sahabat lamaku waktu kecil, dulu
kami sering bersama meski umur kami berbeda agak jauh, orang tua merekapun
bersahabat dengan orang tuaku. Aku menganggap mereka sudah seperti saudaraku
sendiri, saat aku sedih mereka selalu bisa menghiburku dan membuatku tertawa
dan akupun sebaliknya. Setiap aku pergi mereka selalu turut pergi bersamaku,
kami selalu menjaga satu sama lain. Dan kebetulan rumahku tidak terlalu jauh
dengan rumah mereka terutama dengan rumah Angga. Saat masih dibangku sekolah
dasar aku selalu berangkat bersama mereka meskipun kami tidak sekolah di
sekolahan yang sama.
Saat masuk SMA kami berpisah karena keinginan
masing-masing. Aku dan Umam satu sekolahan meskipun aku dan Umam tidak satu
kelas. Sedangkan Angga memilih bersekolah di sekolahan lain. Waktu aku kelas X
Umam sudah menjadi kakak kelasku dia sudah kelas XII. Sedangkan Angga masih
kelas XI, Angga adalah murid yang cukup berprestasi di sekolahnya. Sedangkan
Umam adalah temanku yang cukup bijak dan dewasa meskipun ia sering susah untuk
dibangunkan ketika kami tidur bersama. Aku sering meminta bantuannya ketika aku
ada masalah karena ia lebih tau dan dewasa.
Hal demi hal kami lewati baik senang maupun sengsara.
Pada waktu itu Angga mempunyai seorang pacar Angga pun sangat menyayanggi
pacarnya hampir melebihi rasa persahabatan kami. Waktu terasa sudah bergulir
lama Angga kini jarang keluar rumah dan jarang berkumpul dengan kami. Entah apa
yang terjadi padanya, hanya aku dan Umam yang sering ngumpul bareng dan
teman-temanku lainnya. Apakah dia lebih mementingkan pacarnya dari pada kami,
dia menjadi lebih sombong, ketika itu ia bertemu dengan kami di jalan dengan
membonceng pacarnya ia seperti tidak mengenal kami. Namun tibalah waktu pahit
bagi Angga, karena pacar yang disayangi Angga telah meninggalkannya begitu saja
entah pergi kemana. Angga pun sangat terpukul dengan keadaannya yang menimpanya
saat ini. Beberapa hari kemudian, aku mendapat kabar dari ibunya bahwa Angga
jatuh sakit, ia terkena demam tinggi. Badannya pun begitu panas, mendengar
kabar itu aku langsung pergi menjemput Umum dan langsung menjenguk Angga yang
sedang sakit demam di rumahnya.
Sesampainya di rumah Angga, aku dan Umam langsung menuju
ke kamarnya. Ia sedang tertidur lelap dengan muka yang pucat, kemudian Aku dan
Umam menunggu Anggar terbangun dari tidurnya. Beberapa jam kemudian Angga
terbangun dari tidurrnya, ia kelihatan sangat menyesali perbuatannya. Angga pun
sadar dan langsung meminta maaf kepada kami dan kami memaafkannya dengan
setulus hati. Umam kemudian berbicara kepada Angga bahwa “sahabat itu seperti
bintang, meski ia tidak selalu terlihat tapi ia selalu ada disana”. Angga
langsung menyadari bahwa sahabat itu adalah orang yang selalu ada disaat senang
ataupun sedih.
Beberapa minggu kemudian Angga akhirnya sembuh dari
demamnya. Kamipun sering berkumpul seperti biasa. Waktu demi waktu hari demi
hari, dan semester demi semester telah kami lewati bersama. Pada akhirnya
temanku Umam telah lulus dari sekolah. Itu artinya kami harus berrpisah
sejenak, karna ia akan kuliah ke palembang.
Sungguh sangat sedih melihatnya pergi tapi apa boleh buat
aku dan Angga harus merelakannya pergi. Perlahan mobil bus yang dinaiki Umam
pun berangkat pergi ke terminal. Lambaian tangn Umam semakin lama semakin jauh,
jauh, jauh, dan perlahan-lahan mulai menghilang. Kini tinggal Aku dan Angga
agak sepi rasanya hari-hari tanpa Umam. Kini Aku sudah kelas XI SMA dan Angga
kelas XII SMA taklama lagi semester genap akan kami hadapi.
Setelah kami hadapi semester genap Akupun harus merelakan
Angga pergi untuk kuliah. Ia kuliah ke Jogja, karena ia sangat ingin kesana
ditambah lagi disana ada kakek dan neneknya. Hari-hari tak secerah dulu lagi,
Aku memang mempunyai teman di sekolah dan di rumah, tapi mereka semua tidak ada
yang seperti Angga dan Umam. Akupun menunggu kepulangan mereka dengn sabar.
Setelah lama Aku menunggu akhirnya hari raya idul fitri
akan segera datang pasti Angga dan Umam akan segera mudik ke kampung. Beberapa
hari sebelum lebaran Angga pun pulag disusul kepulangan Umam selang beberapa
hari setelah Angga. Kami sangat senang bisa berkumpul seperti dulu meski hanya
sejenak. Setelah lebaran hampir berahir kami mengadakan perpisahan untuk satu
tahun mendatang. Kami berkumpul kerumah Angga dan makan ikan bakar hasil
bakaran kami. Aku dan Umam pun menginap di rumah Angga karena perintah Angga,
kemudian kami tidur bersama diatas tikar yang sederhana sebagai rasa
kebersamaan dan rasa persaudaraan kami. Terdengar suara ayam berkokok pertanda
hari baru telah dimulai, pagi-pagi itu pun mereka melanjutkan kuliahnya
masing-masing, aku pun yakin kami akan bertemu kembali didunia atau pun di
surga...
Karya : Mas Shaid
Karya : Mas Shaid